-
Baru2.net > Uncategorized > Makalah Teknik Penulisan Naskah Drama
Makalah Teknik Penulisan Naskah Drama
Nov 3Kumpulan Makalah Teknik Penulisan Naskah Drama
MATERI PENULISAN NASKAH DRAMA
BEBERAPA PENGERTIAN
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.
ARTI DRAMA
Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axcting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience)
Adapun istilah lain drama berasal dari kata drame, sebuah kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat, sebuah drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting – meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia – tapi tidak bertujuan mengagungkan tragedi. Bagaimanapun juga, dalam jagat modern, istilah drama sering diperluas sehingga mencakup semua lakon serius, termasuk didalamnya tragedi dan lakon absurd.
Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog; mungkin ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama; petunjuk pementasannya disebut nebentext atau tek sampingan.
Cotoh;
Chaterina ( bergegas masuk, membawa berita bagus ); Raina ! ( ia mengucapkan Raina, dengan tekanan pada i ) Raina ! ( ia menunjuk ketempat tidur, berharap menemukan Raina disitu ) Mengapa, di mana….! ( Raina menoleh kedalam ruangan ).
Fase-fase dalam kurung diatas adalah petunjuk permainan untuk sutradara dan pemain. Ini memandu para aktor dan sutradara maupun tetang penataan perlengkapan panggung. George Bernard Shaw ( 1856 – 1950 ), pelopor realisme dalam sejarah drama Inggris, memberi petunjuk secara panjang lebar pada nebentext-nya yang ditemukan dalam kebanyakan naskahnya karena ia tidak ingin interprestasi lakon-lakonnya menyeleweng dari apa yang sebenarnya ia kehendaki.
Novel jauh berbeda karena bagian narasinya dikombinasikan dengan dialog.
Kalau tidak salah waktu itu ia berumur delapan tahun, atau sembilan ? ia telah diajak ayahnya mengunjungi Chikako, dan mereka menemukan wanita itu diruang makan pagi. Kimononya terbuka. Wanita itu sedang memotongi rambut pada tanda lahirnya dengan gunting kecil. Tanda lahir itu menutupi separuh payudara kirinya dan turun sampai ke lekuk diantara payudaranya, selebar telapak tangan manusia. Tampaknya rambut tumbuh terus pada tanda lahir berwarna hitam kemerahan itu dan Cikako sedang mengguntinginya.
“ Kau ajak anak itu kemari?”
Tidak adanya narasi dalam drama bisa digantikan oleh akting para pemain yang, dengan menghubunkan diri mereka sendiri dengan perlengkapan, perlampuan dan iringan musik, menciptakan suasan dan menghidupkan panggung itu menjadi dunia yang amat nyata. Disamping itu, penjelasan tentang tokoh disampaikan melalui dialog antara tokoh yang membicarakan tokoh lain. Pada puisi, daya ekpresi dan irama mentepati posisi yang dominan. Oleh karena itu, puisi tidak bercerita. Jika balada bertumpu pada narasi, sebab sebenarnya balada adalah kisah, atau cerita yang dinyanyikan. Contohnya, mahabarata dan ramayana dalam bentuk tembang.
Puisi yang dibaca dengan baik menjadi dramatik, seperti yang dilakukan Rendra, aktor baik. Maka “Tidak tidak diragukan lagi drama kadang dianggap diambil dari kata dramen yang berarti sesuatu untuk dimainkan.”Mungkin drama memperoleh hampir semua efektivitasnya dari kemampuannya untuk mengatur dan menjelaskan pengalaman manusia. Oleh karenanya, drama, seperti halnya karya sastra pada umumnya, dapat dianggap sebagai interprestasi penulis lakon tentang hidup. Unsur dasar drama-perasaan,hasrat, konflik dan rekonsilasi merupakan unsur utama pengalaman manusia.
Dalam kehidupan nyata, semua pengalaman emosional tersebut merupakan kumpulan berbagai kesan yang saling ada hubungannya. Bagaimanapun juga, dalam drama, penulis lakon mampu mengorganisir semua pengalaman ini ke dalam satu pola yang bisa dipahami. Penonton melihat materi kehidupan nyata yang disajikan dalam bentuk yang padat makna dengan menghapus hal-hal yang tidak penting dan memberi tekanan kepada hal-hal yang penting.
Penulis lakon menulis drama untuk dipentaskan, ia menulis drama itu dengan membayangkan action dan ucapan para aktor diatas panggung. Jadi ucapan dan action yang terwujud dalam dialog itu adalah bagian paling penting, yang tanpa itu drama bukan benar-benar sebuah lakon. Karena itu, sebuah drama mewujudkan action, emosi, pemikiran, karakterisasi, yang perlu digali dari dialog-dialog itu. Adalah satu keharusan bagi seorang sutradra untuk menganalisis drama sebelum memanggugkan drama itu.
Disamping drama, juga ada istilah teater, atau dalam bahasa inggrisnya theatre, kata teater dalam bahasa indonesia rancu karena tidak menunjukkan perbedaan antara istilah dalam bahasa Inggris; theatre dan the theatre. Dalam bahasa indonesia, teater mengacu pada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Tapi dalam bahasa Inggris, theatre dan the theatre amat berbeda. Kalau kita menonton tari orang primitif dibioskop dan mempelajari rite dan ritual, kita melihat theatre dihidupkan tapi kita tidak melihat the theatre. Kita tidak melihat satu gedung kesenian dan semua yang jadi bermakna dalam istilah lakon maupun pemain. Dalam jagat pikiran Indonesia, istilah teater terkadang cukup membingungkan. Misalnya saja, di Sala, ada nama URAVATRIA Theatre, yang ternyata adalah sebuah gedung bioskop dan bukan gedung teater.
The theatre berasal dari kata theatron, sebuah kata Yunani yang mengacu pada sebuah tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. The theatre juga menunjukan kepada pertunjukan yang lebih spesifik, misalnya teater Yunani, teater Amerika, Jepang dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia kita punya istilah teater tradisional dan teater masa kini atau teater kontenporer. Karena tidak benar-benar mengacu kepada sebuah tempat, kata teater menggambarkan sebuah lakon dengan atau tanpa naskah.
Dialog dalam teater tradisional diciptakan sendiri secara improvisasi oleh para aktor sesuai dengan plot dan karakterisasi yang mereka mainkan.
Teater tradisi berasal dari masyarakat pedesaan dengan solidaritas sebagai tulang punggung dari rasa memiliki. Ini juga mencerminkan jagat audio yang didalamnya penulisan dan penalaran merupakan kegiatan yang mewah. Tidak heran jika teater tradisional juga disebut the solidarity making theatre. Jauh berbeda dari itu, teater masa kini berasal dari jagat analisis yang tulang punggungnya adalah peradaban Yunani Kuno. Sebagai ganti mengandung kekuatan solidarity making teater kontenpoler menawarkan alternatif kepada penonton untuk bebas memilih, menyukai mereka yang telah berakting di panggung, atau pertempuran ide yang didalamnya sifat baik dan sifat jahat saling berjalin di dalam seorang pribadi. “ hidup adalah abu dan debu “, kata George Bernard Shaw. Lains sekali dengan yang terjadi dalam teater masa kini. Dalam teater tradisional, yang jahat harus dikalahkan oleh yang baik, kalau tidak, dihalang bisa dilempari batu oleh penonton. Sebagai contoh, Bima memang seharusnya menang dalam pertempuran melawan Suyudana dalam perang besar Bratayudha.
Dalam teater masa kini, yang jahat mungkin saja jadi pemenang seperti ditunjukkan dalam lakon Shakespeare, Romeo and Juliet. Pasangan kekasih itu mati secara tragis sementara para orang tua kedua kekasih itu tetap hidup dengan sehat walafiat. Bolehkan dikatan bahwa Romeo dan Juliet kalah ? tak seorangpun bisa menyebutkan siapa yang menjadi pemenangnya. Menonton pentas teater masa kini, memerlukan pemikiran yang mau mempertanyakan, kalau tidak lakon itu tidak akan bisa dinikmati.
SEJARAH DRAMA
Kebanyakan dari kita mengira bahwa drama berasal dari Yunani Kuno. Namun demikian, sebuah buku yang berjudul A History of the theatre menunjukan pada kita bahwa pemujaan pada Dionisus, yang kelak diubah kedalam festival drama di Yunani, berasal dari Mesir Kuno. Tek Piramid yang bertanggal 4000SM. Adalah naskah Abydos Passion Play yang terkenal. Tentu saja para pakar masih meragukan apakah teks itu drama atau bukan sebelum Gaston Maspero menunjukan bahwa dalam teks tersebut ada petunjuk action dan indikasi berbagai tokohnya.
Ada tiga macam teaori yang mempersoalkan asal mula drama. Menurut Brockett, drama mungkin telah berkembang dari upacara relijius primitif yang dipentaskan untuk minta pertolonga dari Dewa. Upacara ini mengandung banyak benih drama. Para pendeta sering memerankan mahluk superaalami atau binatang; dan kadang – kadang meniru action berburu, misalnya. Kisah-kisah berkembang sekitar beberapa ritus dan tetap hidup bahkan setelah upacara itu sendiri sudah tidak diadakan lagi. Kelak mite-mite itu merupakan dasar dari banyak drama.
Teori kedua memberi kesan bahwa himne pujian dinyanyikan bersama didepan makam seorang pahlawan. Pembicara memisahkan diri dari koor dan memperagakan perbuatan-perbuatan dalam kehidupan almarhum pahlawan itu. Bagian yang diperagakan makin lama makin rumit dan koor tidak dipakai lagi. Seorang kritisi memberi kesan bahwa sementara koor makinlama makin kurang penting, muncul pembicara lain. Dialog mulai terjadi ketika ada dua pembicara diatas panggung.
Teori ketiga memberi kesan bahwa drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita. Kisah – kisah yang diceritakan disekeliling api perkemahan menciptakan kembali kisah – kisah perburuan atau peperangan, atau perbuatan gagah seorang pahlawan yang telah gugur. Ketiga teaori itu merupakan cikal-bakal drama. Meskipun tak seorang pun merasa pasti mana yang terbaik, harus diingat bahwa ketiganya membicarakan tentang action. Konon, action adalah intisari dari seni pertunjukan.
STRUKTUR DRAMA
Seorang Aristoteles, filsuf Yunani yang hidup sekitar 300 S.M. telah menulis Poetics. Untuk mengenali plot, karakter, pikiran, diksi, musik dan spektakel dari tragedi. Kelak identifikasi itu dianggap sebagai falsafah dasar dari strukturalisme yang oleh T.S. Eliot disebut the Formalistick Approach.
Plot adalah istilah yang berarti ringkasan kisah sebuah lakon. Plot berbeda dari cerita karena caranya menyajikan hubungan urutan cerita dan peristiwa. Dengan sendirinya plot adalah urutan peristiwa yang berhubungan secara kausalitas.
Abil contoh, misalnya Romeo bunuh diri, karena mengira kalau Juliet sudah mati. Kata ‘ karena ‘ merupakan kata sambung untuk menghubungkan kedua peristiwa itu, dengan menjelaskan bahwa yang pertama disebabkan oleh peristiwa kedua. Lain dengan cerita; cerita memerlukan kata dan atau lalu/kemudian untuk menghubungkan dua peristiwa.
Jadi dalam cerita; Romeo bunuh diri dan kemudian Juliet melakukan hal yang sama. Dengan kata lain plot menunjukan peristiwa-peristiwa secara kausatif, sedangkan cerita secara kronologis. Oleh karena itu kata ‘mengapa’ adalah kata ganti penanya yang paling cocok untuk mengamati paradigma plot dalam drama maupun novel.
Pada awal plot kita ada eksposisi. Ini memberi penonton informasi yang diperlukan tentang peristiwa sebelumnya, situasi sekarang atau tokoh-tokohnya. Dalam kebanyakan lakon, sudah sejak awal pengarang memberi tekanan kepada satu pertanyaan atau konplik penting. Pada awal kisah Romeo and Juliet, Shakespeare telah menyajikan pertengkaran antara Sampson, Gregory lawan Baltazar dan Abraham, satu penjelasan yang memberi ‘Leitmotive’ kepada tema, konplik dan rekonsiliasinya.
Gregory : Anda berkelahi, ya ?
Abraham : Berkelahi? Ah, ngak, nggak!
Sampson : Tapi kalau ya, saya memihak anda, saya mengabdi sebaik anda
Abraham : ah, tak akan lebih baik.
Sampson : Baiklah
Gregory : (kesamping kepada Sampson, melihat Tybalt keluar panggung)
Katakanlah lebih baik. Itu salah satu dari orang majikanku datang.
Sampson : Ya, lebih baik.
Abraham : Bohong!
Sampson : Cabut pedangmu, kalau kamu lelaki. Gregory, ingat hantamanmu.
( mereka berkelahi ).
Dialog diatas menciptakan suasana babak itu dan suatu pelukisan singkat tapi lengkap tenatang konplik antara keluarga Montague versus keluarga Capulet yang akan menimbulkan bencana itu.
Terkadang juga ada eksposisi tentang tokoh-tokoh. Sebuah film berjudul Jango versus Santana dapat dijadikan contoh. Film itu dimulai dengan sebuah pemandangan. Sebidang tanah tandus dengan pohon-pohon kaktus tumbuh disana-sini. Sementara fokus kamera bergerak kearah kanan, seorang lelaki dengan baju kotor dan basah kuyup tampak berlutut didepan sebuah makam. Lelaki itu berdiri dan kamera mengambil gambarnya dalam teknik medium. Posisi enface memberikan gambaran jelas tokot itu. Ia tak mengalami kemalangan, tapi ia menghadapinya dengan tegar. Pelukisan singkat tapi hampir lengkap dari tokoh tersebut memberi titik awal yang jelas untuk memulai film itu.
Dalam eksposisi itu, unsur-unsur konpliknya statis. Melalui satu insiden yang merangsang maka action mulai bergerak. Disini konflik dramatik besar mulai jelas menyatukan kejadian – kejadian dalam lakon itu. Insiden yang merangsang dalam Romeo and Juliet tampak ketika Tybalt mengenali Romeo dan ingin menantang berkelahi. Presiden dari stimulasi itu terjadi ketika inang memberi tahu Juliet bahwa Romeo adalah anggota keluarga Montague. Unsur statis dalam eksposisi itu mulai bergerak dan konflik sehari-hari antara Sampson versus Abraham makin lama makin menjadi makin serius. ( Babak I ) timbul serentetan konflik ketika Romeo membocorkan rahasianya kepada teman-temannya, memanjat tembok kebun keluarga Capulet, dan menunggu Juliet muncul dijendelanya waktu gadis itu muncul, keduanya saling mengungkapkan cinta dan memutuskan untuk kawin lari ( Babak II ). Makin lama lakon itu makin tegang sampai pendeta sampai pendeta Laurence berharap, setelah menyeleggarakan upacara pernikahan, pertikaian antara keluarga itu akan berakhir dan Romeo berpendapat begitu. Kisah cinta sederhana antara pemuda dan pemudi itu sekarang berkembang menjadi idealisme yang melibatkan masalah besar yang dihadapi kedua orang tua itu. Tidak diragukan bahwa konflikasi tersebut menuju suatu krisi, satu titik balik ketika informasi yang sebelumnya dirahasiakan sedikit sebagian terungkap dan masalah dramatik itu bisa dijawab.
Meskipun Juliet sudah menikah dengan Romeo, ia tidak berterus terang pada ayahnya. Oleh karenanya itu, Capulet tetap menjalankan rencananya untuk menikahkan Juliet dengan Paris. Karena pernikahan akan berlangsung pada hari kamis, pendeta Laurence mengusulkan agar pada hari rabu Juliet harus menelan ramuan yang akan membuatnya mati suri; sementara Laurence akan mengirimkan pesan pada Romeo untuk menyelamatkan Juliet dari makam keluarga Capulet, karena ia merasa yakin gadis itu akan dimakamkan disana. Capulet, karena ditentang oleh putrinya, memutuskan untuk mengajukan pernikahan itu sehari. Rencana itu membuat Juliet harus segera mereguk racun tadi. Agar rencananya tidak terhalang, ia menyuruh inang keluar dan tanpa pikir panjang langsung mereguk racun tadi. Paginya inang menemukan Juliet sudah tak bernyawa. Laurence dan Paris tiba; tapi upacara pernikahan harus diubah menjadi upacara pemakaman ( Babak IV ).
Bagian terakhir dari lakon itu, sering disebut resolusi, berkembang dari krisis sampai tirai ditutup untuk terakhir kalinya. Ini terkadang mengumpulkan berbagai alur action dan membawa situasinya ke suatu keseimbangan baru, dengan demikian hasilnya bisa jadi memuaskan, tapi mungkin juga mengecewakan harapan penonton.
Karena tidak tahu bahwa Jliet hanya kelihatannya mati, Balthazar tiba di Mantua sebelum pendeta tiba dan memberi tahukan tentang kematian Juliet. Mendengar itu Romeo membeli racun untuk bunuh diri dimakam Juliet. Setelah membunuh Paris, Romeo mereguk racun itu. Ketika terjaga, Juliet menemukan Romeo yang sudah mati dan bunuh diri. Pertikaian kedua keluarga itu berakhir di atas dua kekasih yang sudah mati ( Babak V )
KARAKTER
Disamping menjadi materi utama untuk menciptakan plot, karakter juga merupakan sumber action dan percakapan. Karena itu, karakter harus dibentuk agar cocok dengan kebutuhan plot, dan semua bagian dari setiap karakterisasi harus pas satu sama lain. Jika karakternya sama, tidak akan ada lakon. Minat akan muncul kalau karakter-karakter itu saling bertentangan. Mereka sedapat mungkin harus tidak sama.
UNSUR-UNSUR YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH DRAMA
Unsur-unsur ini bisa kita lihat dari dua sisi, antara lain dari sisi –
A. fisik :
1. Judul
2. Prolog
3. Dialog
4. Autodirection
5. Adegan
6. Babak
7. Evilog
8. Dramatik Person
B. PSIKIS :
1. Tema ( social, politik,psikologi, moral, religious, cinta, dll )
2. Plot / alur cerita :
Ø Jenis Plot : – Linier, sirkuler, episodic, consentrik, statis, spiral
Ø Penghubung peristiwa dalam plot : rapat, longgar dan lepas
Ø Anatomi Plot :
Saspence : keteganagn yang terjadi diawal cerita yang membuat penasaran bagi pembaca atau penonton.
Gestus : Ucapan yang keluar dari seorang tokoh yang beritikad mencari solusi tentang sesuatu persoalan.
Foreshadowing : Bayang-bayang peristiwa atau dialog yang mendahului sebelum peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Dramatik Ironi : Sindiran yang terjadi diawal cerita yang akhirnya benar-benar terjadi dikemudian.
Flasback : pengulangan kejadian masa silam yang digambarkan pada masa itu, dalam upaya mempertegas cerita dari kejadian suatu peristiwa ( menggambarkan kronlogis peristiwa secara detail )
Surprese : Peristiwa yang tidak diduga dan mengejutkan, akan tetapi masih dapat diterima karena masih dalam kerangka peristiwa.
3. Strukturdramatik :
Eksposisi : Isinya pemaparan masalah utama atau konflik utama yang berkaitan dengan posisi diametral antara protagonis dan antagonis. Hasil akhir : Antagonis berhasil menghimpun kekuatan yang lebih dominan.
Raising Action : Isinya menggambarkan pertentangan kepentingan antar tokoh. Hasil akhir : Protagonis tidak berhasil melemahkan Antagonis. Antagonis mengancam kedudukan Protagonis. Krisis diawali.
Complication : Isinya perumitan pertentangan dengan hadirnya konflik sekunder. Pertentangan meruncing dan meluas, melibatkan sekutu kedua kekuatan yang berseteru. Hasil akhir : Antagonis dan sekutunya memenangkan pertentangan. Kubu protagonis tersudut.
Klimaks : Isinya jatuhnya korban dari kubu Protagonis, juga korban dari kubu Antagonis. Hasil akhir : Peristiwa-peristiwa tragis dan menimbulkan dampak besar bagi perimbangan kekuatan antar kubu.
Resolusi : Isinya hadirnya tokoh penyelamat, bisa muncul dari kubu protagonis atau tokoh baru yang berfungsi sebagai penyatu kekuatan kekuatan konflik, sehingga situasi yang kosmotik dapat tercipta kembali. Pada tahap ini, pesan moral disampaikan, yang biasanya berupa solusi moral yang berkaitan dengan tema atau konflik yang sudah diusung.
4. Bentuk Lakon :
a. Tragedi : Salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh tragis yang oftimistis hancur dalam perjuangan karena mempunyai cacat tragis.
b. Komedi : Salah satu bentuk lakon dalam mana terdapat banyak hal atau peristiwa tentag tokoh-tokoh tertentu yang menimbulkan kelucuan, kegelian dan atau kemuakan moral
c. Tragedikomedi : Salah satu bentuk lakon dengan tokoh utama atau tokoh-tokoh yang lainnya, diperistiwakan, disuasanakan, dikarakterisasikan pengarang secara lucu dan komis, tapi sekaligus kadang atau seringkali mengerikan, menyeramkan atau menimbulkan rasa iba prihatin atau simpati
d. Melodrama : salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh protagonis secara total, baik, antagonis secara total, jahat, sementara aksi-aksi dramatis dan pengkarakterisasian dibuat untuk menghasilkan efek yang gagal atau hebat
5. Aliran :
a. Konvensional
b. Non Konvensional
TEHNIK MENGOLAH BAHAN CERITA
METODE ; Fact and Fictionalization
1. Memadukan kenyataan ( Fact ) dan rekaan ( Fiction ) ; buatlah kemungkinan – kemungkinan hubungan baru, dari orang – orang yang pernah anda wawancarai atau yang pernah anda ketahui, seperti daftar dibawah ini;
Ø Pedagang kecil
Ø Salesmen / girl
Ø Buruh pabrik
Ø Loper koran rumah
Ø Pengamen jalanan
Ø Tukang reparasi keliling
Ø Pembantu rumah tangga
Ø Satpam rumah pribadi
Ø Tukang pijat keliling
Ø Pedagang batu akik
Ø Tukang potong rambut DPR
Ø Tukang sayur keliling
Ø Pedagang asongan
Contoh hubungan baru ; Membuat plot atau Alur cerita
Pembatu rumah tangga punya pacar tukang pijat keliling. Tapi, satpam rumah pribadi naksir berat pada pembantu rumah tangga. Satpam minta bantuan pedagang batu akik untuk membuat batu pelet yang ampuh. Oleh pembantu rumah tangga batu pelet malah diberikan pada tukang sayur keliling.jadi jatuh hati pada satpam. Satpam menolak, karena tukang sayur keliling sudah bersuami, yaitu tukang pijat keliling. Seorang loper koran menyebarkan desas desus. Perselingkuhan tukang pijat keliling dengan pemabantu rumah tangga diketahui oleh warga lain………
1. Tema, yang bisa diangkat menjadi fokus cerita : ( pilih salah satu )
Ø PERSAINGAN
Ø PERCINTAAN
Ø PERJUANGAN HIDUP
Ø PERSEKONGKOLAN
Ø KEADILAN, DLL
1. Cara menerapkan metode Fact and Fictionalization
Ø jalan cerita dan nama – nama tokoh diganti
Ø Karakter dan penampilan tokoh disesuaikan dengan fakta dalam kenyataan
Ø Bahasa disesuaikan dengan latar belakang tokoh masing – masing
Ø Pilih gaya penuturan yang sesuai dengan tema cerita dan potensi pemain
DAFTAR KATA ACAK
Pemuda Miskin Saleh Ayah Haus Karir Ibu Royal Pencemburu
Ibu Baik Hati Janda Kenes Janda Alim
Banci Galak Preman Budiman Dokter Komersil
Kopral Madona Kampung Maling Lihai
Gadis Jujur Nenek Gatal Guru Sederhana
Anak Pemberani Suami Hidung Belang Rentenir Serakah
Polisi Penyabar RT pembual Nenek Roker
Mahasiswa Pecandu Narkoba Pengusaha Nakal
Satpam Erotis Pensiunan Paranormal Gadungan
Haji Rendah Hati Anak Band Cuek Pembantu Kocak
Jendral Darah Tinggi Banci Galak Polisi Cabul
Merangkai kata acak, menjadikan sebuah alur cerita, sebagai llangkah awal untuk mencipta dialog.
MAIN CHARACTER in MuSICAL
Ø Protagonis – Tokoh Utama (1)
Ø Antagonis – Lawan Tokoh Utama (1)
Ø Deutragonis – Pembela Protagonis (1)
Ø Foil – Sekutu Antagonis (1)
Ø Choral – Massa, Crowd, kelompok (1)
Ø Narator – Pengisah Peristiwa (1)
ELEMENS OF MUSICAL SCRIPT
Ø Narator – Opening, Middle, Closing
Ø Dialogue – Core Lines of Main Character
Ø Song – Lirical Song, Choral Song, Finale
Ø Choreo – Intro, Act-Choreo, Bridging, Finale
Ø Music – Illustrasion, Thematic, Effect
Ø SUPORTIVE ELEMENTS
Costumes, Make-up, Hand-props, Becgaraund Scenery, Special Effect
Ø PROTAGONIS – MALING ( JATUH CINTA )
Ø ANTAGONIS – JANDA ( KENES )
Ø DEUTRAGONIS – NENEK ( ROKER )
Ø FOIL JENDRAL ( DARAH TINGGI )
Ø CHORAL – SATPAM ( EROTIS ), BANCI ( GALAK )
Ø SESUAIKAN SCRIPT DENGAN GAYA ;
DRAMA, ROMANCE, COMEDI, FABLE
Unsur pendukung sesuai dengan kebutuhan
Definition ;
Ø Opening Naration ; pembuka kisah diawal pertunjukan
Ø Middle Naration ; Narasi jembatan antara adegan/act
Ø Closing Naration ; penutup kisah diakhir pertunjukan
Ø Core Lines Dialogue; Ucapan inti tokoh-tokoh penting
Ø Lirical Song; Nyanyian solo oleh tokoh penting
Ø Choral Song; Nyanyian koor oleh kelompok choral
Ø Finale Song; Nyanyian penutup oleh seluruh pemain
Ø Intro choreo; koreo kelompok diawal pertunjukan
Ø Act Choreo; choreo tunggal oleh tokoh-tokoh penting, saat menyanyikan lyrical song.
Ø Bridging Choreo; Koreo kelompok penghubung antara adegan
Ø Finale Choreo; koreo kelompok diakhir pertunjukan, saat menyanyikan finale song
Ø Ilustrasion Music; musick penguat suasana untuk adegan penting atau khusu
Ø Thematick Music; musik tema sesuai gaya pertunjukan. Dipakai diakhir pertunjukan, pada finale song
Ø Effect music; Efek audio untuk dramatisasi suasana.
Ø Costumes; busana khusus untuk identitas tokoh
Ø Make-up; efek perupaan untuk karakterisasi tokoh
Ø Hand-props; peralatan khusu yang dibawa tokoh
Ø Background scenery; gambaran lokasi peristiwa
Ø Spesial Effect; Efek audio-visual untuk peristiwa penting.
Contoh Treatmen
1. STYLE : COMEDI
2. TITEL : SAPUTANGAN BUAT MARKISA
3. THEMA ; PERSAINGAN KELAS SOSIALTREAMENT:
Darga, maling lihai, tampan tapi tak terawat. Jatuh cinta pada Markisa, janda kenes. Jalan Darga terhalang, sebab Markisa sudah dipinang Suroto Broto, pansiunan jendral, pengidap darah tinggi.
Darga tak pandai menyatakan perasaan cinta. Dia minta bantuan pada Nita Thalidut, nenek pengamen penyanyi rock, untuk membuat lagu rayuan. Sementara itu, markisa sudah diboyong oleh Suroto Broto ke sebuah villa. Darga dan Nita Thalidut mendatangi villa Suroto, untuk melamar Markisa.
Tapi, saat lagu rayuan didendangkan, yang terbakar asmaraya justru satpam erotis penjaga villa, bernama Darma. Darga dikerjar Darma, dikepung oleh kelompok satpam, kolega Darma. Tapi Darga menolak. Terjadi perkelahian. Darga terluka.
Melihat darga terluka, Markisa melunak hatinya, bersimpati pada Darga. Tapi Suroto Broto naik pitam. Suroto mengancam menembak Darga. Pada saat kritis itu, muncul Isye Rai, banci galak, simpanan Suroto Broto. Muncul pula rombongan maling, kelompok binaan Darga.
Ise Rai merabrak Suroto Broto, karena dianggap buaya. Suroto kecut dan malu, Hendak kabur, tapi dikepung oleh rombongan maling. Kelompok satpam melindungi Suroto. Terjadi perkelahian massal antara rombongan maling dengan kelompok satpam. Rombongan maling menang.
Suroto Broto tak berkutik, pergi digiring Isye Rai. Markisa akhirnya menerima Cinta Darga. Cinta Markisa dan Darga dirayakan bersama oleh Nita Thalidut, Darma dan kelompok satpam, serta oleh rombongan maling. Happy ending sesaat.
Suara sirene terdengar. Rombongan polisi datang mengepung untuk menangkap darga dan komplotannya. Terdengar perintah polisi dari sebuah toa, perintah untuk menyerah. Troubled Ending.
Tags:LintasBerita.Com | InfoGue.Com
One Response to “Makalah Teknik Penulisan Naskah Drama”
-
Thanx for the effort, keep up the good work Great work, I am going to start a small Blog Engine course work using your site I hope you enjoy blogging with the popular BlogEngine.net.Thethoughts you express are really awesome. Hope you will right some more posts.


Komentar Terbaru